Tahukah kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan
ataupun keburukan? "Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan
adalah pahala orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali
silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah
siksaan bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali
persaudaraan" (HR. Ibnu Majah).
diambil dari tausiah Aa Gym, www.republika.co.id
Silaturahmi tidak sekedar bersentuhan tangan atau memohon maaf belaka.
Ada sesuatu yang lebih hakiki dari itu semua, yaitu aspek mental dan
keluasan hati. Hal ini sesuai dengan asal kata dari silaturahmi itu
sendiri, yaitu shilat atau washl, yang berarti menyambungkan atau
menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang.
Makna menyambungkan menunjukkan sebuah proses aktif dari sesuatu yang
asalnya tidak tersambung. Menghimpun biasanya mengandung makna sesuatu
yang tercerai-berai dan berantakan, menjadi sesuatu yang bersatu dan
utuh kembali.
Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda, "Yang disebut bersilaturahmi
itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian,
melainkan bersilaturahmi itu ialah menyambungkan apa yang telah putus"
(HR. Bukhari).
Kalau
orang lain mengunjungi kita dan kita balas mengunjunginya, ini tidak
memerlukan kekuatan mental yang tinggi. Boleh jadi kita melakukannya
karena merasa malu atau berhutang budi kepada orang tersebut. Namun,
bila ada orang yang tidak pernah bersilaturahmi kepada kita, lalu
dengan sengaja kita mengunjunginya walau harus menempuh jarak yang jauh
dan melelahkan, maka inilah yang disebut silaturahmi. Apalagi kalau
kita bersilaturahmi kepada orang yang membenci kita, seseorang yang
sangat menghindari pertemuan dengan kita, lalu kita mengupayakan diri
untuk bertemu dengannya. Inilah silaturahmi yang sebenarnya.
Rasulullah SAW pernah memberikan nasihat kepada para sahabat,
"Hendaklah kalian mengharapkan kemuliaan dari Allah". Para sahabat pun
bertanya, "Apakah yang dimaksud itu, ya Rasulullah?" Beliau kemudian
bersabda lagi, "Hendaklah kalian suka menghubungkan tali silaturahmi
kepada orang yang telah memutuskannya, memberi sesuatu (hadiah) kepada
orang yang tidak pernah memberi sesuatu kepada kalian, dan hendaklah
kalian bersabar (jangan lekas marah) kepada orang yang menganggap
kalian bodoh" (HR. Hakim).
Dalam hadis lain dikisahkan pula, "Maukah kalian aku tunjukkan amal
yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?" tanya Rasulullah
SAW kepada para sahabat. "Tentu saja," jawab mereka. Beliau kemudian
menjelaskan, "Engkau damaikan yang bertengkar, menyembungkan
persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang
terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan
tali persaudaraan di antara mereka adalah amal shalih yang besar
pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan
rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi" (HR. Bukhari
Muslim).
* * *
Sahabat,
bagaimana mungkin hidup kita akan tenang kalau di dalam hati masih
tersimpan kebenciaan dan rasa permusuhan kepada sesama muslim.
Perhatikan keluarga kita, kaum yang paling kecil di masyarakat. Bila di
dalamnya ada beberapa orang saja yang sudah tidak saling tegur sapa,
saling menjauhi, apalagi kalau di belakang sudah saling menohok,
menggunjing, dan memfitnah, maka rahmat Allah akan dijauhkan dari rumah
tersebut. Dalam skala yang lebih luas, dalam lingkup sebuah negara,
bila di dalamnya sudah ada kelompok yang saling jegal, saling fitnah,
atau saling menjatuhkan, maka dikhawatirkan bahwa bangsa dan negara
tersebut akan terputus dari rahmat dan pertolongan Allah SWT.
Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT.
Dengan terhubungnya silaturahmi, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin
dengan baik. Bagaimana pun besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama
sekali tidak ada artinya bila di dalamnya tidak ada persatuan dan kerja
sama untuk taat kepada Allah. Sebagai umat yang besar, kaum muslim
memang diwajibkan ada yang terjun di bidang politik, ekonomi, hukum,
dsb, karena tanpa itu kita akan dipermainkan dan kepentingan kita tidak
ternaungi secara legal di dalam kehidupan bermasyarakat. Namun
demikian, berbagai kelompok yang ada harus dijadikan sarana
berkompetisi untuk mencapai satu tujuan mulia, tidak saling
menghancurkan dan berperang, bahkan lebih senang berkoalisi dengan
pihak lain. Sebagai umat yang taat, kita berkewajiban untuk mendukung
segala kegiatan yang menyatukan langkah berbagai kelompok kaum muslimin
dan mempererat tali persaudaraan diantara kita semua. Wallahu 'alam...
|
Ditulis oleh Husam Suhaemi
|
|
Tuesday, 22 November 2005 |
|
|
|
Terakhir diperbaharui ( Sunday, 23 April 2006 )
|
Number of comments (0) - Add your comments to this article... You are not authorized to leave comments - please login. |