Reproduced from FAQ "Frequently Asked Question" of Bird Flu in WHO
website, within permission. Any further reproduction of this material
should be requested directly to WHO.
Oleh beritaiptek.com
Merebaknya penularan penyakit flu burung atau "Avian Influenza" kepada
manusia belakangan ini, menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat
di Indonesia. Berbagai pertanyaan yang terkait dengan penyakit flu
burung sering muncul. Berikut ini terangkum berbagai jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan tersebut yang dibagi ke dalam 3 bagian tulisan :
pertama, berisi tentang apa dan bagaimana Avian Influenza itu, sejarah
penyebaran dan pengendaliannya di hewan, serta dampaknya terhadap
perekonomian ; kedua, berisi tentang situasi sekarang penyebaran Avian
Influenza dan penularannya pada manusia ; ketiga, berisi tentang
pengendalian penyebaran penyakit ini pada manusia.
Pada bagian pertama tulisan ini, terfokus pada apa dan bagaimana Avian
Influenza itu, sejarah penyebaran dan pengendaliannya di hewan, serta
dampaknya terhadap perekonomian :
Apakah Avian Influenza itu ?
Avian influenza, atau "flu burung" adalah penyakit menular pada hewan
yang disebabkan oleh virus dan umumnya menyerang burung dan sedikit di
antaranya menyerang babi. Karena semua spesies burung diperkirakan
mudah terkena infeksi, maka peternakan unggas khususnya lebih rentan
terinfeksi dan secara cepat menjadi epidemik.
Penyakit pada burung ini mempunyai dua jenis. Yang pertama menyebabkan
gejala yang sedang, kadang hanya menunjukkan pengerutan bulu-bulu atau
mengurangi produksi telur. Yang perlu diperhatikan justru yang jenis
kedua, yang dikenal dengan Avian Influenza patogenik tinggi ("highly
patogenic Avian Influenza"). Bentuk ini pertama kali ditemukan di
Italia pada tahun 1878, sangat menular pada burung dan sangat fatal,
dengan tingkat kematian mencapai 100%. Burung langsung mati pada hari
yang sama dengan gejala penyakit muncul.
Apa yang bisa dilakukan untuk mengendalikannya pada burung ?
Pengendalian yang paling penting yaitu pemusnahan secara cepat "rapid
destruction" seluruh burung yang terindikasikan atau telah diketahui
secara pasti tertular, mengurus bangkai secara baik, mengarantina dan
memberikan disinfektan di areal peternakan.
Virus dapat terbunuh oleh panas (56 derajat Celsius selama 3 jam atau
60 derajat Celsius selama 30 menit), dan disinfektan umum, seperti
formalin dan senyawa yodium.
Virus mampu bertahan pada suhu dingin, pada kotoran yang terkontaminasi
sekurangnya selama tiga bulan. Di dalam air, virus mampu bertahan
selama empat hari pada suhu 22 derajat Celsius dan lebih dari 30 hari
pada suhu 0 derajat Celsius. Pada jenis patogenik tinggi, penelitian
menunjukkan bahwa satu gram kotoran yang terkontaminasi, dapat
mengandung virus yang cukup untuk menyerang 1 juta ekor burung.
Apa konsekuensi berjangkitnya penyakit dalam peternakan ?
Berjangkitnya penyakit "Avian Influenza", khususnya patogenik tinggi,
dapat merusak industri peternakan dan merugikan peternak. Sebagai
contoh berjangkitnya Avian Influenza patogenik tinggi di USA pada tahun
1983-1984, sebagian besar di dalam wilayah Negara Bagian Pensylvania,
menyebabkan musnahnya lebih dari 17 juta ekor burung dengan kerugian
mencapai 65 juta dolar Amerika. Konsekuensi kerugian ekonomi yang lebih
besar dapat dialami khususnya bagi negara berkembang yang bergantung
kepada industri peternakan sebagai salah satu sumber pendapatannya dan
juga kerugian pangan, serta dapat menggagalkan upaya pengentasan
kemiskinan peternak dan keluarganya.
Ketika berjangkitnya penyakit ini semakin menyebar keseluruh wilayah di
suatu negara, pengendalian akan semakin sulit dilakukan. Sebagai
contoh, berjangkitnya penyakit ini di Meksiko sejak tahun 1992, yang
sulit ditangani hingga 1995.
Dengan alasan seperti ini, otoritas pemerintahan biasanya mengambil
langkah darurat yang agresif untuk mengendalikan jumlah penyakit saat
mulai terdeteksi berjangkitnya penyakit ini.
Bagaimana cara penyebaran berjangkitnya Avian Influenza dalam sebuah negara ?
Dalam sebuah negara, penyakit menyebar secara mudah dari lahan
peternakan satu ke lahan peternakan yang lainnya. Virus dikeluarkan
dalam jumlah besar dari tetesan sekresi burung, mencemari debu dan
tanah. Virus yang berterbangan di udara menyebarkan penyakit ini dari
satu burung ke burung yang lainnya, menyebabkan infeksi saat virus
tersebut terhirup. Peralatan, kendaraan, pakan, kandang atau pakaian
(terutama sepatu), dapat membawa virus tersebut dari satu lahan
peternakan ke lahan peternakan yang lainnya. Virus dapat pula terbawa
oleh kaki dan badan hewan, seperti tikus, bertindak sebagai "vektor
mekanis" untuk menyebarkan penyakit ini. Beberapa bukti-bukti yang
terbatas menemukan bahwa lalat pun dapat menjadi vektor mekanis ini.
Tetesan sekresi dari burung liar yang terinfeksi, dapat membawa virus
kepada peternakan unggas komersial dan lingkungannya. Resiko terbesar
infeksi dari burung liar ke peternakan domestik terjadi pada unggas
domestik yang dipelihara di alam terbuka, mengonsumsi suplai air yang
sama dengan burung liar, atau menggunakan suplai air yang diduga
tercemar oleh tetesan sekresi dari burung liar yang terinfeksi.
Selain itu "Pasar Becek", di mana burung-burung diperjualbelikan dalam
kondisi penuh sesak dan kadangkala dalam kondisi sanitasi yang tidak
baik, dapat juga menjadi sumber lain penyebaran penyakit.
Bagaimana cara penyebaran penyakit dari satu negara ke negara lainnya ?
Penyakit ini dapat menyebar dari satu negara ke negara lainnya melalui
perdagangan ternak hidup. Migrasi burung, termasuk burung air, burung
laut, dan burung pantai, dapat membawa virus dalam jarak jauh dan pada
masa lalu dapat menyebabkan penyebaran internasional Avian Influenza
patogenik tinggi. Migrasi burung air, umumnya bebek liar, merupakan
sumber alami virus flu burung, dan burung jenis ini paling tahan
terhadap infeksi. Burung jenis ini dapat membawa virus dalam jarak yang
sangat jauh dan mengeluarkannya melalui tetesan ekskresi, dan hanya
menyebabkan sedikit pengaruh dan gejala penyakit jangka pendek pada
mereka.
Meskipun demikian, bebek-bebek domestik lebih rentan bahkan fatal
apabila terinfeksi, demikian juga ayam kalkun, angsa, dan beberapa
spesies yang diternakkan di sekitar lahan pertanian.
Bagaimanakah situasi saat ini ?
Sejak pertengahan Desember 2003 sejumlah negara-negara di Asia telah
melaporkan berjangkitnya Avian Influenza patogenik tinggi pada ayam dan
bebek. Selain itu pula telah dilaporkan infeksi penyakit ini pada
beberapa spesies burung liar dan babi.
Penyebaran yang sangat cepat dari Avian Influenza patogenik tinggi ini,
dengan kejadian berjangkitnya secara bersamaan di beberapa negara,
memang tidak diperkirakan sebelumnya, serta menjadikan keprihatinan
yang besar terhadap kesehatan manusia dan pertanian.
Dalam hal resiko terhadap kesehatan manusia, perlu secara khusus
diwaspadai keberadaan strain patogenik tinggi yang dikenal dengan
"H5N1", yaitu penyebab utama berjangkitnya penyakit ini. H5N1 telah
melampaui batasan spesies, menyebabkan penyakit yang serius pada
manusia, dalam dua kejadian beberapa waktu yang lalu dan saat ini
terulang kembali, dan menambah korban sedikit demi sedikit di Vietnam,
Thailand dan Indonesia.
Mengapa begitu mengkhawatirkan situasi berjangkitnya penyakit ini sekarang ini ?
Pejabat kesehatan publik diperingatkan oleh berjangkitnya penyakit ini
yang tanpa diperkirakan sebelumnya di peternakan dengan beberapa
alasan. Pertama, meskipun tidak semuanya, umumnya berjangkitnya
penyakit yang berat, seperti berbagai laporan yang terjadi di Asia,
telah disebabkan oleh strain patogenik tinggi H5N1. Ada bukti kuat
bahwa strain ini memiliki kemampuan unik untuk melampaui batas spesies
dan menyebabkan penyakit yang serius, dengan tingkat mortalitas tinggi
pada manusia.
Kedua, dan kekhawatiran yang lebih besar yaitu situasi sekarang ini,
dapat menambah parah jenis influenza yang pandemik hanya pada manusia.
Peneliti-peneliti mengetahui bahwa virus-virus Avian Influenza dan
influenza pada manusia dapat bertukar gen ketika seseorang secara
simultan terinfeksi oleh kedua virus tersebut. Proses tukar-menukar gen
dalam tubuh manusia ini dapat meningkatkan kemungkinan terbentuknya
jenis virus influenza baru, yang masih sedikit dimiliki oleh manusia
yang mempunyai kekebalan alami. Lebih jauh, keberadaan vaksin yang
dikembangkan setiap tahun untuk menyesuaikan sirkulasi strain-strain
dan melindungi manusia dalam epidemik musiman, tidak efektif melawan
virus influenza baru ini.
Seandainya virus baru ini memiliki gen manusia secara cukup, transmisi
langsung dari seseorang ke orang yang lainnya (selain dari burung ke
manusia saja) dapat terjadi. Apabila ini terjadi, kondisi dimulainya
pandemik influenza jenis baru akan dihadapi. Kejadian lebih
mengkhawatirkan apabila transmisi dari manusia ke manusia menyebabkan
suksesi generasi akibat dari penyakit parah dengan tingkat kematian
tinggi.
Hal ini mirip kejadian pandemik influenza besar pada periode tahun
1918-1919, ketika virus influenza baru di masa itu terbentuk dan
menyebar ke seluruh dunia, selama 4-6 bulan. Beberapa gelombang infeksi
terjadi selama lebih dari 2 tahun, memakan korban manusia yang
diperkirakan berjumlah 40-50 juta jiwa.
Apakah ada bukti transmisi dari manusia ke manusia secara efisien ?
Tidak. Meskipun di Thailand pada tanggal 27 September 2004, Kementerian
Kesehatan mengumumkan kemungkinan transmisi dari manusia ke manusia
dalam keluarga. Pejabat pemerintah Thailand telah menyimpulkan bahwa
seorang ibu dapat terserang sumber infeksi baik yang berasal dari
lingkungan maupun saat merawat anak perempuan, dan ini menunjukkan
adanya kemungkinan transmisi dari manusia ke manusia. Ketika penelitian
lingkup keluarga yang membuktikan adanya kemungkinan transmisi dari
manusia ke manusia, bukti terbaru mengindikasikan transmisi virus pada
manusia hanya terbatas di dalam keluarga saja, tidak ada perluasan
lingkup transmisi yang pernah terjadi di dalam komunitas masyarakat.
Kewaspadaan yang terus menerus tetap perlu untuk menentukan sejauh mana
situasi epidemiologis pada manusia akan tetap stabil.
Apakah infeksi H5N1 pada manusia sering terjadi ?
Tidak. Hanya sedikit saja. Pertama kali Avian strain H5N1
terdokumentasikan menyerang manusia terjadi di Hongkong pada tahun
1997. Pada saat pertama kali berjangkitnya, 18 orang masuk ke rumah
sakit dan 6 di antaranya meninggal dunia. Sumber infeksi pada
keseluruhan kasus ini berhasil terlacak akibat adanya kontak dengan
burung yang sakit pada lahan pertanian (1 kasus) dan hidup di sekitar
pasar ternak (17 kasus).
Kasus pada manusia ini kebetulan terjadi saat berjangkitnya Avian
Influenza patogenik tinggi H5N1 di peternakan. Sangat sedikit adanya
transmisi virus H5N1 dari manusia ke manusia pernah terdokumentasikan
di kalangan tenaga medis, anggota keluarga, peternak, dan tenaga
pemotong. Berdasarkan antibodi H5 yang terdeteksi di kelompok-kelompok
ini, diketahui adanya infeksi virus tersebut, tidak terdapat gejala
penyakit serius yang terjadi. Studi menunjukkan bahwa antibodi
terdeteksi pada 10% peternak dan 3% tenaga pemotong.
Pada tahun 2003, strain H5N1 kembali melompat dari burung menginfeksi
sebuah keluarga (seorang ayah dan seorang anak laki-laki) ketika mereka
kembali ke Hongkong setelah mengikuti perjalanan ke China bagian
selatan. Ayahnya meninggal namun anaknya sembuh. Anggota ketiga dalam
keluarga tersebut, saudara perempuan anak laki-laki tersebut, meninggal
akibat penyakit pernapasan parah di China. Tidak ada sampel yang dapat
digunakan untuk menentukan penyebab kematian anak perempuan ini.
Apakah berbagai laporan terbaru tentang penyakit yang berjangkit
pada burung sama bahayanya dengan yang berjangkit pada manusia ?
Tidak. Hanya berjangkitnya penyakit yang disebabkan oleh strain H5N1,
yang cukup mengkhawatirkan untuk kesehatan manusia belakangan ini.
Untuk analisis resiko pada kesehatan manusia, perlu diketahui secara
tepat bagaimana strain virus avian dapat mengakibatkan berjangkitnya
penyakit pada burung. Sebagai contoh, berjangkitnya penyakit avian
influenza terakhir yang dilaporkan di China Taiwan, disebabkan oleh
strain H5N2 yang bukan jenis patogenik tinggi pada burung dan belum
pernah diketahui dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Berjangkitnya
penyakit yang terakhir dilaporkan di Pakistan disebabkan oleh strain H7
dan H9, bukan oleh H5N1.
Meskipun demikian, pengendalian segera dari seluruh berjangkitnya
penyakit avian influenza pada burung, meskipun yang disebabkan oleh
strain patogenik rendah, sangatlah penting. Penelitian menunjukkan
bahwa strain virus Avian Influenza tertentu, yang tadinya patogenik
rendah, dapat bermutasi secara cepat (dalam 6 sampai 9 bulan) menjadi
strain patogenik tinggi jika tetap dibiarkan berputar di populasi
ternak.
Dapatkah pandemik dicegah ?
Tidak ada orang yang dapat memastikannya. Virus influenza sangat tidak
stabil dan perilakunya bertentangan dengan perkiraan. Meskipun demikian
Badan Kesehatan Dunia (WHO) meyakinkan bahwa jika tindakan yang tepat
segera dilakukan, pandemik influenza bisa dicegah.
Prioritas pertama dan tugas utama pencegahan, yaitu mengurangi
kesempatan mendekatnya manusia ke sumber virus terbesar: ternak yang
terinfeksi. Hal ini dapat dicapai dengan deteksi dini berjangkitnya
penyakit ternak dan pengenalan darurat cara mengendalikannya, termasuk
pemusnahan seluruh ternak yang terinfeksi atau yang stok ternak yang
diduga terinfeksi, penanganan bangkai secara baik.
Seluruh bukti yang memungkinkan peningkatan resiko transmisi kepada
manusia saat berjangkitnya Avian Influenza patogenik tinggi H5N1,
semakin bertambah di peternakan. Dengan bertambahnya jumlah manusia
yang terinfeksi, hal ini meningkatkan resiko berkembangnya virus
subtipe baru, dan memicu pandemik influenza. Hubungan antara
meningkatnya meningkatnya infeksi pada ternak dan meningkatnya resiko
infeksi pada manusia terlihat saat ini di Asia. Vietnam, Thailand dan
kini Indonesia, dengan berjangkitnya penyakit di peternakan yang makin
meluas.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa mendesaknya situasi dan
perlunya tindakan dini pada hewan dan sektor pertanian. Sebagai contoh,
pada tahun 1997 pada seluruh populasi burung di Hongkong, dilakukan
pemusnahan sekitar 1,5 juta ekor ayam dan jenis burung lainnya
dilakukan dalam 3 hari. Dan pada tahun 2003 dilakukan kembali
pemusnahan 30 juta ekor burung (dari populasi sekitar 100 juta ekor) di
Belanda dilakukan dalam waktu satu minggu. Tindakan dini pada situasi
ini dipikirkan oleh banyak ahli influenza untuk mencegah pandemik
influenza pada manusia.
Apakah bisa dipastikan bahwa hanya sedikit kasus yang terjadi pada manusia ?
Ya. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mempunyai beberapa bukti bahwa strain
H5N1 mulai tersebar pada burung sejak April 2003. Deteksi hingga saat
ini, hanya sedikit kasus yang terjadi pada manusia membuktikan bahwa
virus ini tidak mudah ditransmisikan dari burung kepada manusia pada
saat ini. Meskipun demikian, situasi dapat berubah dengan cepat,
sebagaimana diketahui strain H5N1 dapat bermutasi secara cepat dan
telah terdokumentasikan mempunyai kemampuan bertukar gen dengan virus
influenza dari spesies lainnya.
Pada situasi tersebut dapat memungkinkan pertumbuhan pandemik strain
virus influenza baru, setiap kasus infeksi yang terjadi pada manusia,
satu kali pun dianggap terlalu banyak. Tambahan dari pemusnahan secara
dini hewan terinfeksi, peluang lain untuk mencegah kasus yang terjadi
pada manusia adalah melalui perlindungan pekerja yang terlibat dalam
pemusnahan hewan terinfeksi.
Apakah ada cara pengendalian terbaik yang dapat dilakukan ?
Pada beberapa kasus, ya. Jepang dan Republik Korea tampaknya telah
mengontrol berjangkitnya penyakit secara baik di peternakan, cepat dan
aman. Pemantauan para pekerja yang terlibat dalam pemusnahan hewan
terinfeksi telah dilakukan dan tidak terdapat kasus infeksi yang
terdeteksi pada manusia. Situasi pada negara lain tampaknya sangat
problematis.
Pemerintahan di beberapa negara di dunia menghadapi berjangkitnya
penyakit di peternakan secara serius, dan tidak mempunyai sumber daya
yang diperlukan untuk melaksanakan pedoman perlindungan pekerja
pemusnahan ternak unggas yang terinfeksi sesuai yang direkomendasikan.
Di beberapa negara semacam ini, praktek pemeliharaan ternak di daerah
pedesaan dilaksanakan di lingkungan terbuka, yang seringkali tidak
terdaftar oleh otoritas pertanian setempat, yang lebih jauh mempersulit
pemusnahan dini dan sistematis dari hewan sumber penyakit.
Selain H5N1, adakah virus Avian Influenza jenis lain yang pernah menginfeksi manusia ?
Ya. Dua jenis strain avian telah menyebabkan penyakit pada manusia,
akan tetapi berjangkitnya penyakit ini tidak seserius yang disebabkan
oleh strain H5N1.
Strain H9N2, yang bukan merupakan patogenik tinggi pada burung,
menyebabkan gejala penyakit yang sedang, pada dua anak kecil di
Hongkong pada tahun 1999 dan satu anak lainnya pada pertengahan
Desember tahun 2003, juga di Hongkong.
Berjangkitnya penyakit Avian Influenza patogenik tinggi H7N7 pada
burung, dimulai di Belanda pada bulan Februari tahun 2003, menyebabkan
kematian seorang dokter hewan (dengan gejala gangguan pernapasan akut)
dua bulan kemudian, dan menyebabkan gejala penyakit sedang, terhadap 83
peternak dan anggota keluarga mereka.
Apakah ada vaksin yang efektif melawan H5N1 pada manusia ?
Tidak. Vaksin yang ada sekarang tidak akan melindungi manusia dari
penyakit yang disebabkan oleh strain H5N1. Pada saat ini baru WHO masih
mengembangkan prototipe H5N1 untuk digunakan memproduksi vaksin oleh
produsen vaksin terkemuka.
Vaksin dari virus prototipe yang ada, dikembangkan dari strain H5N1
tahun 2003 (yang menyebabkan dua kasus infeksi pada manusia), tidak
dapat dikembangkan menjadi vaksin. Analisis virus pada tahun 2004, yang
dilakukan oleh jaringan laboratorium Badan Kesehatan Dunia (WHO),
menunjukkan bahwa virus telah mengalami mutasi yang sangat signifikan.
Apakah ada obat yang dapat digunakan untuk pencegahan dan pengobatan ?
Ya. Dua kelompok obat telah tersedia. Mereka adalah "M2 inhibitor"
(amantadine dan rimantadine), dan "neuraminidase inhibitor"
(oseltamivir dan zanimivir). Obat-obat ini telah diberikan lisensi
untuk mencegah dan mengobati influenza pada manusia di beberapa negara,
dan diperkirakan cukup efektif tanpa memperhatikan strain virus
penyebab.
Meskipun demikian, analisis awal isolat virus dari berbagai kasus fatal
di Vietnam menunjukkan bahwa virus secara beragam resisten terhadap M2
inhibitor. Pengujian lebih jauh yang sedang berjalan yaitu konfirmasi
resistensi dari amantadine. Jaringan laboratorium juga sedang melakukan
pengujian keefektifan neuraminidase inhibitor melawan strain H5N1 yang
ada saat ini.
Apakah saat ini ada vaksin yang berguna untuk mencegah pandemik influenza ?
Ya, namun dengan jalan menetapkan sasaran. Vaksin yang ada saat ini,
yang dimasukkan ke dalam kelompok beresiko tinggi, seperti pemusnah
hewan terinfeksi, melindungi dari strain virus influenza yang beredar
pada manusia dan hal ini mengurangi resiko lebih buruk bagi manusia
beresiko tinggi dari virus flu burung, yang kemungkinan terinfeksi oleh
virus flu manusia dan flu burung secara bersamaan. Dua infeksi
sekaligus dari virus flu manusia dan virus flu burung membuat peluang
pertukaran gen, memungkinkan terbentuknya virus influenza subtipe baru
yang berpotensi menyebabkan pandemik.
Vaksin musiman diproduksi secara rutin untuk melindungi manusia dari
epidemik influenza musiman. Vaksin ini tidak memberikan perlindungan
dari infeksi avian virus H5N1.
Untuk tujuan ini, telah terdapat pedoman vaksinasi dari Badan Kesehatan
Dunia (WHO), menggunakan vaksin influenza trivalen yang ada saat ini,
bagi kelompok beresiko tinggi di negara-negara yang mengalami
berjangkitnya penyakit Avian Influenza patogenik tinggi H5N1 di
peternakannya. (tsn)
|
Pertanyaan Seputar "Flu Burung" |
|
|
|
|
Ditulis oleh Husam Suhaemi
|
|
Friday, 07 October 2005 |
|
|
|
Terakhir diperbaharui ( Wednesday, 10 May 2006 )
|
Number of comments (0) - Add your comments to this article... You are not authorized to leave comments - please login. |