|
|
|
|
|
|
|
|
|
Artikel lumayan untuk dibaca... tentang mengajarkan anak tentang kesederhanaan
Sumber: Milist
Penulis: Anonymous
Suatu hari, ayah dari suatu keluarga yang sangat
sejahtera membawa anaknya bepergian ke suatu negara yang sebagian besar
penduduknya hidup dari hasil pertanian, dengan maksud untuk menunjukkan
bagaimana kehidupan orang-orang yang miskin.
Mereka menghabiskan waktu berhari-hari di sebuah tanah pertanian milik
keluarga yang terlihat sangat miskin. Sepulang dari perjalanan
tersebut, sang ayah bertanya kepada anaknya,
"Bagaimana perjalanan tadi?"
"Sungguh luar biasa, Pa."
"Kamu lihat kan bagaimana kehidupan mereka yang miskin?" tanya sang ayah.
"Iya, Pa," jawabnya.
"Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan ini?" tanya ayahnya lagi.
Si anak menjawab, "Saya melihat kanyataan bahwa kita mempunyai seekor anjing sedangkan mereka memiliki empat ekor.
Kita punya sebuah kolam yang panjangnya hanya sampai ke tengah-tengah
taman, sedangkan mereka memiliki sungai kecil yang tak terhingga
panjangnya.
Kita memasang lampu taman yang dibeli dari luar negeri dan mereka
memiliki bintang-bintang di langit untuk menerangi taman mereka.
Beranda rumah kita begitu lebar mencapai halaman depan dan milik mereka seluas horison.
Kita tinggal dan hidup di tanah yang sempit sedangkan mereka mempunyai tanah sejauh mata memandang.
Kita memiliki pelayan yang melayani setiap kebutuhan kita tetapi mereka melayani diri mereka sendiri.
Kita membeli makanan yang akan kita makan, tetapi mereka menanam sendiri.
Kita mempunyai dinding indah yang melindungi diri kita dan mereka memiliki teman-teman untuk menjaga kehidupan mereka".
Dengan cerita tersebut, sang ayah tidak dapat berkata apa-apa.
Kemudian si anak menambahkan, "Terima kasih, Pa, akhirnya aku tahu betapa miskinnya diri kita."
Terlalu sering kita melupakan apa yang kita miliki dan hanya berkonsentrasi terhadap apa yang tidak kita miliki.
Kadang kekurangan yang dimiliki seseorang merupakan anugerah bagi orang lain.
Semua berdasar pada perspektif setiap pribadi.
Pikirkanlah apa yang akan terjadi jika kita semua bersyukur kepada
Tuhan atas anugerah yang telah disediakan oleh-Nya bagi kita, daripada
kuatir untuk meminta lebih lagi.
|
Ditulis oleh Husam Suhaemi
|
|
Thursday, 15 September 2005 |
|
|
|
Terakhir diperbaharui ( Thursday, 15 September 2005 )
|
Number of comments (0) - Add your comments to this article... You are not authorized to leave comments - please login. |
| |
|
|
|