Sumber: milist / anonymous
Doktor "Miscellaneous Causa"
By: Nining I Soesilo
Direktur UKM Center FEUI; Alumni ITB; University of Iowa AS
Doktor Azahari mencetak rekor Muri karena dialah satu-satunya doktor
militan yang tewas ditembak polisi. Doktor demolition causa ber- IQ
tinggi ini ternyata tak mampu menemukan oase teduh di masyarakat. Teror
adalah sarana berkomunikasi. Doktor tamatan Inggris ini adalah doktor
hororis causa.
Umumnya doktor di Indonesia hidup di alam damai, meski damai tetapi
gersang. Seorang dosen fisika ITB meninggal awal tahun ini karena
leukemia di RS Dharmais setelah terkatung-katung tiga hari tak
mampu bayar ICU. Bantuan kartu kredit Dekan MIPA ternyata ditolak
rumah sakit. Doktor summa cum laude ini di akhir hayatnya telah menjadi
doktor ironis causa.
Dosen ITB lain bahkan meninggal di rumah karena biaya rumah sakit
terlalu mahal. Meski perbaikan telah dilakukan, jika para pengajar
tidak ngobyek, hidup mereka masih terseok- seok.
Bagaimana mungkin universitas ternama bisa menyamai universitas lain di
Asia? Negara kita adalah ibu tiri pendidikan, menghapus subsidi
universitas dan memaksanya jadi badan hukum milik negara.
Meski doktor unggul di kampus, dalam kehidupan nyata belum tentu. Tiga
kali negara kita dipimpin presiden nonsarjana (Soeharto, Abdurrahman
Wahid, Megawati). Mereka tak perlu embel-embel gelar meski diberi gelar
doktor honoris causa. Baru dua presiden kita doktor secara akademis.
Rumit
Wisuda saya di UI jadi ajang gelak tawa saat promotor berpidato,
"Selamat ya, sekarang anda boleh mencantumkan gelar doktor, sama
seperti Doktor Hamzah Haz!"
Apakah Prof Dr Anwar Nasution, Deputi Senior Gubernur BI saat itu,
cocok jadi profesor doktor humoris causa; atau karena disertasi saya
konyol, atau mungkin ada hal-hal lain? Entahlah.
Mengambil doktor banyak suka dukanya. Tampak gampang buat mereka yang
tidak pernah diketahui kapan sekolahnya, tahu-tahu sudah bergelar
doktor. Tak heran jika Mendiknas melalui iklan TV getol menindak
doktor imitation causa dari dalam maupun luar negeri.
Mengambil doktor di dalam negeri ternyata rumit. Ilmu dosennya kadang
kedaluwarsa, referensi sulit, dan sering dinodai ngobyek
pembimbing maupun mahasiswanya.
Mungkinkah studi doktor di UI lama karena universitasnya lebih
berkualitas? Ternyata dosen UI sulit membimbing karena sibuk menjadi
pejabat, penasihat di institusi pemerintah/swasta, pengusaha, maupun
mengisi ruang sidang pengadilan kasuskorupsi. Untuk yang terakhir, Muri
atau Museum Rekor Indonesia mungkin akan memberinya gelar doktor
residivis causa.
Seorang dirjen pada Departemen Perindustrian mengaku, indeks prestasi
kumulatif S1-nya di bawah tiga dari maksimum empat; nyaris DO dalam
tujuh tahun di ITB. IPK S2 dan S3 di Amerika mendekati empat. Ternyata
sekolah di Indonesia lebih sulit.
Di luar negeri kuliah biasanya terisolir; tak ada pilihan lain selain
belajar. Tak heran bila seorang pengamat ekonomi berintegritas
tinggi lebih memilih DO dari UI dan berkiprah di masyarakat daripada
meraih embel-
embel gelar doktor. Banyak menteri yang jika dulu tidak DO dari
universitasnya dan berkarier di politik mustahil bisa menjadi
pejabat.
Berjaya di lingkup akademis
Banyak anak Indonesia berprestasi di Olimpiade MIPA. Anak Indonesia di
luar negeri, yang dibawa orangtuanya sekolah, umumnya unggul
dibanding anak lokal. Padahal, ketika diIndonesia, prestasi
mereka biasa- biasa saja. Ini berarti bangsa kita amat cerdas.
Tetapi, mengapa dalam kehidupan nyata kita kalah?
Menurut Forum Ekonomi Dunia, sebelum krisis 1998, daya saing Indonesia
di urutan 31 dunia. Tahun 1999-2003 kedudukannya jatuh ke urutan 37,
44, 49, 69, dan mendarat di urutan 72.
Angka kewirausahaan kita hanya sebesar 16 sampai 18 per 1.000 penduduk.
Dari 200 juta penduduk Indonesia, 75,3 juta adalah pemuda;
6,6 persen di antaranya berpendidikan sarjana; 82 persen dari
mereka bekerja pada instansi pemerintah/swasta; 18 persen yang
jadi wirausaha. Ternyata wirausaha belum jadi impian kita meski
di tahun Internasional Kredit Mikro 2005 sudah berupaya mengembangkan
UKM. Padahal, inilah indikator daya saing bangsa.
Ternyata di lingkup steril akademis saja kita berjaya. Bila tidak
diubah, di masa depan anak-anak kita hanya kan antre berebut
ijazah; bukan bekerja dalam artisebenarnya. Di kehidupan nyata kelak
ada yang akan bergelar bdoktor miscellaneous (aneka) causa; masih
menghibur jika jadi doktor humoris causa ketimbang doktor imitation
causa, ironis causa, residivis causa, demolition causa, maupun hororis
causa.
Nining I Soesilo Direktur UKM Center FEUI; Alumni ITB; University of Iowa AS
|
Doktor "Miscellaneous Causa" |
|
|
|
|
Ditulis oleh Husam Suhaemi
|
|
Friday, 31 March 2006 |
|
|
|
Terakhir diperbaharui ( Tuesday, 09 May 2006 )
|
Number of comments (0) - Add your comments to this article... You are not authorized to leave comments - please login. |